081214629800 (wa)

admin@institutalkhairiyah.ac.id

Today :

Hadapi Krisis Nilai Era Digital, 4 Perguruan Tinggi Kolaborasi Tegaskan PAI Sebagai Jangkar Karakter Generasi Muda

Mujairimi

May. 22, 2026

CILEGON – Derasnya arus digitalisasi dan disrupsi global tidak hanya membawa kemudahan teknologi, tetapi juga tantangan besar berupa krisis nilai dan moral di kalangan generasi muda. Merespons fenomena tersebut, empat perguruan tinggi lintas daerah bersinergi menggelar Seminar Nasional Pendidikan Agama Islam (PAI) Tahun 2026 secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (21/5/2026).

Mengusung tema strategis “PAI Sebagai Basis Pembentukan Karakter Siswa di Era Disrupsi”, acara ini menjadi ruang diskusi krusial bagi ratusan akademisi dalam merumuskan ulang arah pendidikan Islam di zaman modern. Kolaborasi besar ini diinisiasi oleh STIT Al-Khairiyah Cilegon, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Mathla’ul Anwar Banten, dan Universitas Islam Bandung.

Bukan Sekadar Pengajaran Formal di Kelas

Saat membuka acara, Wakil Ketua I STIT Al-Khairiyah Cilegon, Faizudin, M.Pd., menegaskan bahwa PAI tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran formalitas belaka.

“Di era disrupsi saat ini, tantangan generasi muda bukan hanya soal akademik, tetapi juga krisis nilai dan karakter. Karena itu, PAI harus hadir sebagai instrumen utama pembentukan moral. Kita harus membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga religius, berintegritas, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tegas Faizudin.

Transformasi Metode Menuju Generasi Digital

Seminar yang berlangsung dinamis dari pukul 13.00 hingga 15.30 WIB ini menghadirkan empat pakar pendidikan Islam terkemuka sebagai narasumber:

  • Dr. Tata Saptayuda Purnama, M.Si (Universitas Al Azhar Indonesia)
  • Dr. Mumu Zainal Mutaqin, M.Pd (Universitas Mathla’ul Anwar)
  • Dr. Iwan Sanusi, M.Pd (Universitas Islam Bandung)
  • Dr. Uun Kurnaesih, M.S.I. (STIT Al-Khairiyah Cilegon)

Para pemateri sepakat bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana melakukan transformasi metode pembelajaran PAI agar lebih relevan dengan karakteristik generasi digital. Pendidikan agama dituntut mampu menjawab tantangan globalisasi dan budaya siber tanpa kehilangan nilai-nilai moral serta spiritualitasnya.

Antusiasme tinggi terlihat dari kehadiran 187 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia. Dipandu oleh moderator Kamila Anjaina, sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis terkait strategi membentengi moralitas siswa di tengah paparan media sosial dan teknologi informasi.

Komitmen Sinergi Berkelanjutan

Ketua Panitia Pelaksana, Wildan Mujahidin, mengungkapkan bahwa seminar ini dirancang bukan sekadar sebagai pemenuhan forum akademik, melainkan sebuah langkah awal membangun sinergi jangka panjang antarlebaga pendidikan Islam.

“Kami berharap seminar ini menjadi ruang kolaborasi nyata dalam memperkuat kualitas SDM yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Prodi PAI STIT Al-Khairiyah Cilegon, Dr. Uun Kurnaesih, M.S.I., menyampaikan kesan mendalam atas suksesnya acara ini. Beliau berharap agenda serupa terus konsisten dilaksanakan demi memperkuat peran PAI sebagai pondasi pembentukan karakter yang berakhlak mulia, bijak, dan adaptif.

Acara yang berlangsung sukses ini ditutup dengan sesi foto bersama serta pembagian e-sertifikat kepada seluruh peserta. Melalui momentum ini, institusi pendidikan Islam penyelenggara berkomitmen untuk terus mengawal PAI sebagai solusi konkret pencetakan generasi masa depan yang berakhlak mulia, disiplin, kritis, dan siap menaklukkan dinamika zaman.

Artikel Terkait

Leave a Comment